Skip to main content

Cinta Diujung Jendela






Dalam anganku tersirat bayangmu
Aku ingat ketika aku menatapmu
Aku merasa derita dalam sukmaku
Hati ini menginginkanmu
Tapi puncak kesadaran mengguncangku
Menampar setiap urat nadiku
Menghinakan aku “wanita kotor, pantaskah kau disandingnya?”

Sempat aku menangis
Tetapi sukma menegakkan ruas
Aku diam, berpikir sejenak
“Tidak. Dia yang tak pantas bersanding denganku.”
Lalu ia bungkam
Aku menyiksa batinku
Dalam anganku tersirat bayangmu
Bayang semu, hanya itu yang ditemu
Kamu dinyatakan dalam khayalan

Tak ada lagi rupa yang akan kukata
Tak ada lagi sukma yang mengudara
Tak ada lagi cinta diujung jendela

Dalam anganku tersirat bayangmu

20 Juni 2014
00:31-00:57 W.I.B.

Comments

Popular posts from this blog

Salam Untukmu

Ini akan menjadi kali terakhir aku menyapamu. Kawan, kau pasti tahu. Hari ini adalah hari kemenangan. Kemenangan di setiap rintih sakit langkah kita, Kemenangan bagi kita yang mampu bertahan meneguhkan diri, menggenggam kandil kandil asa. Kawan, biarkan aku mengajak mu bernonstalgia, Menyelusuri disetiap jengkal memoar dinding sekolah.

Secuil Kertas Pengharapan

Secuil kertas pengharapan yang aku lindungi dari hujan Kini telah terbaca Ia mengerutkan dahi dan tersenyum masam Takut-takut   aku bersembuyi Namun ia merengkuh tangan ku Dan membawaku menyelinap hujan Entah apa dalam benaknya

Kemanakah Wajahmu

Sirna sudah wajahmu Wajahmu yang hadir digelak tawaku Wajahmu yang hadir di sendu tangis ku Wajahmu yang menggeluti amarahku Kemanakah itu? Malam yang memerangimu dan merenggutmu Membuat tanganku hampa merengkuh wajahmu Ohh, kemanakah itu? Siangku menjadi malam dan malam ku teramat gelap Dibalik jendela aku sendirian